Feed on
Posts
Comments

IMG_7903

Sindang Barang merupakan sebuah nama dari Kampung Budaya yang ada di Bogor. Kampung yang berjarak sekitar 5 km dari pusat kota bogor ini berletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Dengan berlatar belakang sejarah Kerajaan Padjajaran dan tertuang dalam Pantun Bogor, Kampung Sindang Barang diyakini sebagai kerajaan bawahan Prabu Siliwangi dengan Kutabawang sebagai ibu kotanya. Selain itu, Sindang Barang juga diyakini merupakan tempat tinggal salah satu isteri Prabu Siliwangi yang bernama Dewi Kentring Manik Mayang Sunda. Kini, Kampung Sindang Barang sudah menjadi Kampung Budaya yang bertekad untuk meneruskan kearifan lokal leluhur.

Seren taun merupakan upacara rutin tahunan yang dilaksanakan oleh Kampung Budaya Sindang Barang. Upacara Seren taun merupakan upacara masyarakat agararis dimana upacara ini dimaksudkan untuk penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang terlalu berlalu serta salah satu media dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang telah diterima seiring dengan harapan agar dimasa yang akan datang, hasil panen seluruh anggota masyarakat dapat lebih melimpah lagi.

Departemen Eksplorasi Budaya UKM Lingkung Seni Sunda IPB berkesempatan untuk mengikuti upacara seren taun di kampung budaya tersebut. Seren taun Kampung Budaya Sindang Barang di tahun 2015 ini dilaksanakan selama 3 hari sejak Jumat 11 Desember hingga Minggu 13 Desember 2015, namun sebelumnya telah dilakukan upacara Neutepkeun dan Ziarah yang telah dilaksanakan pada tanggal 9 & 10 Desember 2015.

Neutepkeun

Neutepken ini dimaksud adalah memanjatkan niat agar acara Seren Taun berjalan lancar serta memohon agar kebutuhan pangan selama acara terpenuhi tanpa ada kekurangan. Upacara ritual ini dipimpin oleh Sang Rama dan Kokolot Panggiwa yang dilaksanakan di tempat pabeasan (tempat menyimpan beras) di Imah Gede. Di Pabeasan inilah dikumpulkan semua bahan-bahan makanan yang akan dimasak mulai dari bumbu dapur, sayur mayur, minuman, serta kue-kue yang akan dimakan sepanjang acara seren Taun berlangsung

Ziarah/Ngembang

Ngembang / nyekar/ ziarah dipimpin oleh Kokolot Panggiwa dan Panengen dilakukan ke makam sebagai leluhur warga Sindangbarang yaitu Sang Prabu Langlangbuana, Prabu Prenggong Jayadikusumah di Gunung Salak

Ngakuleun dan Ngangkat

Ngukuluan dan Ngangkat ini adalah mengambil air dari tujuh sumber mata air, bermula dari Imah kolot. Dilepas oleh Sang Rama kepada para kokolot dan parawari (panitia). Perjalanan mengambil air dari sumber mata air ini diiringi dengan kesenian tradisional Angklung Gubrag

Sedekah kue, Nugel Mbe, dan Munday Lauk

Sedekah kue dan Nugel mbe dilakukan di imah gede / imah bali. Upacara diawali dengan parawari (panitia) mempersiapkan sebanyak 40 tampah yang berisi aneka kue, upacara dipimpin oleh kokolot, kemudian dengan meriwayatkan sejarah leluhur Sindangbarang. Serta membacakan doa buat para leluhur . Setelah itu barulah kokolot dan para warga serta anak-anak SD memperebutkan sedekah kue, dilanjutkan dengan Nugel Mbe atau pemotongan domba. sementara Munday Lauk atau menangkap ikan rame-rame dilakukan sekitar tengah hari bertempat di sungai sekitar imah bali dengan warga sekitar sebagai pesertanya.

Imah gede / imah bali

Imah gede / imah bali

Pembukaan oleh panitia

Pembukaan oleh panitia

Pembacaan doa oleh kokolot

Pembacaan doa oleh kokolot

Pembacaan doa oleh kokolot

Pembacaan doa oleh kokolot

Sedekah Kue

Sedekah Kue

Nugel Mbe

Nugel Mbe

Helaran dongdang, Majiekeun Pare, Pintonan kesenian

Persiapan oleh masayarakat sudah diawali sejak subuh, karena pagi harinya sebanyak 54 RT di kampung Sindangbarang sudah berkumpul di depan masjid Sindangbarang dengan membawa dongdang (hasil bumi) yang dihias aneka bentuk. Pawai dongdang ini dilengkapi oleh barisan pembawa Rengkong (padi) hasil panen, para kokolot, rombongan kesenian, dan sebagainya. Jam 08.00 WIB rombongan bergerak menuju kampung budaya Sindangbarang untuk melaksanakan Upacara puncak yaitu Majiekeun Pare ayah dan ambu ke dalam lumbung Ratna

Helaran dimulai dari imah bali menuju ke kampung budaya

Helaran dimulai dari imah bali menuju ke kampung budaya

Kesenian Dog-dog

Kesenian Dog-dog

Kesenian Angklung Gubrag

Kesenian Angklung Gubrag

Kesenian Angklung Gubrag

Kesenian Angklung Gubrag

Dong dang berisikan hasil panen pertanian

Dongdang berisikan hasil panen pertanian

Dong dang berisikan hasil panen pertanian

Dongdang berisikan hasil panen pertanian

Kesenian Rengkong

Kesenian Rengkong

warga memperebutkan Dongdang

warga memperebutkan Dongdang

majikeun pare

majikeun pare

Pintonan kesenian tari

Pintonan kesenian tari

Pintonan kesenian tari

Pintonan kesenian tari

Pintonan kesenian tari

Pintonan kesenian tari

Tim Nalungtik Budaya Sunda dengan Damas (Daya Mahasiswa Sunda) Bogor

Tim Nalungtik Budaya Sunda dengan Damas (Daya Mahasiswa Sunda) Bogor

IMG_8268

Nalungtik Budaya Sunda (NBS) merupakan salah satu Program Kerja Departemen Eksplorasi Budaya UKM Gentra Kaheman. Pada NBS tahun ini, diadakan di Kampung Adat Baduy Dalam daerah Banten Jawa Barat dengan tema “kearifan lokal”. Maksud dari tema tersebut dimaksudkan agar seluruh pihak yang terlibat dapat memahami kehidupan masyarakat sunda baduy. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari yaitu hari sabtu hingga mingg inggu tanggal 9-10 Mei 2015, kegiatan yang akan dilakukan adalah menelaah apa saja keunikan yang berada disana. Peserta sekaligus panitia yang ikut serta sebanyak 25 orang yang terdiri dari Anggota UKM Lises Gentra Kaheman IPB angkatan 9, 10, 11, dan 12. Tim panitia, yaitu anggota dari departemen eksplorasi budaya UKM Lises Gentra Kaheman membagi seluruh pihak yang terlibat ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5 orang. Kelompok disana berguna untuk mencari informasi yang berkaitan dengan kearifan lokal, diantaranya (1) makanan khas, (2) tokoh masyarakat, (3) hal-hal yang dianggap pamali, (4) tempat khas, dan (5) tradisi dan kebudayaan masyarakat baduy.

HARI 1

Persiapan dimulai pukul 22.00 WIB di Fakutas Kedokteran Hewan yang dihadiri oleh semua panitia dan peserta. Persiapan dilakukan disertai dengan briefing sebelum perjalanan, seluruh peserta mendengarkan penjelasan teknis dari mulai run down dan segala macam teknis yang berkaitan dengan apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama diperjalan maupun di Kampung Baduy Dalam, Cibeo. Tepat pukul 00.00 WIB truck TNI yang menjadi kendaraan kami menuju tempat tujuan melaju di tengah kegelapan malam. Seluruh panitia maupun peserta selama perjalanan beristirahat untuk melakukan perjalanan yang menurut informasi selama 5 jam dari Ciboleger hingga sampai Baduy Dalam. Pukul 04.00 kami sampai di Kampung Ciboleger, kemudian langsung melakukan shalat subuh dan bersih-bersih badan untuk bersiap sarapan pagi. Kami memulai perjalanan dari Ciboleger pada pukul 06.00 WIB. Kampung Ciboleger merupakan kampung atau tempat pintu masuk menuju ke Kampung Baduy.

Tim Nalungtik Budaya di Kampung Ciboleger

Tim Nalungtik Budaya di Kampung Ciboleger

Registrasi sebelum masuk ke Kampung Baduy Luar

Registrasi sebelum masuk ke Kampung Baduy Luar

Perjalanan dari Kampung Ciboleger menuju Kampung Baduy Dalam Cibeo harus melewati beberapa Desa Baduy Luar. Kami menemukan di setiap rumah terdapat ibu-ibu yang sedang sibuk melakukan kegiatan tenun kain. Masyarakat Baduy umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan bertenun kain. hasil tenunan kain tersebut akan menjadi syal atau slayer yang akan dijual ke para pengunjung.

Menenun merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat baduy luar

Menenun merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat baduy luar

Warga Baduy Luar menggunakan baju adat berwarna hitam dan juga ada beberapa yang memakai baju bebas. Selama di Baduy Luar, kami diperbolehkan untuk mengambil gambar maupun rekaman namun setelah kami melalui perbatasan sampai ke Baduy Dalam, kami dilarang untuk mengambil gambar maupun rekaman. Perjalanan yang kami lewati dari Ciboleger sampai ke Baduy Dalam tidaklah mudah, kami harus melewati rintangan berupa beberapa tanjakan maupun turunan yang cukup terjal dan menguras tenaga seluruh panitia dan peserta sehingga pada beberapa kesempatan kami melakukan istirahat di rumah warga selama beberapa menit untuk sekedar minum air putih, minum madu maupun meistrirahatkan badan sejenak.

Anak-anak Masyarakat Baduy Luar

Anak-anak Masyarakat Baduy Luar

Jembatan Bambu

Jembatan Bambu

Track menuju ke Baduy Dalam

Track menuju ke Baduy Dalam

Setelah beberapa desa kami lewati akhirnya kami pun sampai di Baduy Dalam pada pukul 12.00 WIB, yang menandakan bahwa kami melakukan perjalanan selama 6 jam. Sesampainya di Baduy Dalam, kami beristirahat sejenak di rumah salah seorang warga Baduy Dalam yang kami jadikan sebagai tempat tinggal selama kami berada di Baduy Dalam. Pukul 14.00 WIB beberapa panitia berkumpul untuk menyiapkan makan siang sekaligus makan malam dengan memasak di dapur tempat kami menginap. Makanan jadi pada pukul 15.30 WIB dengan menu makanan nasi putih+ikan asin+ tempe tahu+ sambal, lalu pukul 16.00 WIB seluruh panitia dan peserta makan bersama.
Setelah semua merasa kenyang, pada pukul 16.00-17.00 WIB seluruh panitia dan peserta mandi dan bersih-bersih di sungai untuk melakukan shalat ashar sembari beristirahat. Lalu ketika semua sudah selesai, pada pukul 17.00 WIB kami mengunjungi rumah salah satu Jaro (tetua/tokoh penting di Desa) untuk melakukan tanya jawab terkait dengan apa yang sudah ditetapkan sebelumnya. Banyak informasi yang kami dapatkan dari kegiatan tanya jawab tentang kondisi Baduy Dalam. Hal yang menarik dari informasi yang didapatkan adalah hutan larangan. Selama ini hutan larangan dianggap suatu tempat yang seram dan tidak boleh didatangi oleh siapapun, namun setelah ditanyakan kepada Jaro tentang hutan larangan bahwa hutan larangan boleh didatangi oleh siapapun asal tidak merusak kondisi disana dan tujuan dari adanya hutan larangan adalah keseimbangan agar ketika hujan melanda tidak akan ada banjir dan ketika kemarau tidak pernah merasakan kekeringan. Setelah semua informasi terkumpul, kami kembali ke penginapan untuk melakukan shalat magrib. Ketika waktu magrib seluruh desa menjadi gelap dan sunyi karena memang disana tidak tersedia listrik sehingga kami hanya menggunakan lilin dan lampu penerangan. Setelah pukul 20.00 WIB seluruh panitia dan peserta menghentikan segala aktivitas dan bersiap untuk tidur. Ketika pukul 21.00 WIB semua sudah lelap dan istirahat untuk melakukan kegiatan besok dan merelaksasikan badan.

HARI 2

Minggu, 10 mei 2015 diawali dengan sholat subuh berjamaah sekitar pukul 05.00 WIB, kegiatan NBS selama di Baduy Dalam pun kita lanjutkan dengan masak sarapan dan packing untuk pulang. Karena masak-memasak memakan waktu yang lama akhir nya kami pun membagi rundown kami yang sebelumnya sudah disiapkan. Juru masak yaitu Kang Dadang dibantu dengan asistennya Teh Rika, Teh Ei, dan Teh Fevi mulai beraksi dengan penggorengan dan Hawu atau kompor tradisional yang terbuat dari tanah liat dan berbahan bakar berupa kayu bakar. Pukul 08.00 WIB makan bersamapun dimulai dengan menu sarapan berupa nasi goreng. Tepat pukul 09.00 setelah selesai makan kami langsung beranjak ke agenda berikutnya yaitu agenda Ngawangkong atau diskusi mengenai hasil pertemuan hari pertama bersama Bapak Jaro Sami. Diskusi kali ini ditemani dengan bapak Ardi sebagai narasumber kami. Bapak Ardi sendiri adalah pemilik rumah dari tempat penginapan selama di Baduy Dalam. Selama diskusi dimulai, masing-masing kelompok menjelaskan hasil eksplorasi berdasarkan topiknya masing-masing, mulai dari makanan, tempat, tokoh, hal-hal yang dianggap pamali, serta kesenian dan kebudayaan yang ada di masyarakat Baduy. Agendapun kami lanjutkan dengan packing dan bersih diri dengan mandi di sungai.

Pukul 11.00 kami mulai bersiap untuk melakukan perjalan pulang dan berpamitan dengan pak Ardi. Kemudian tepat pukul 12.30 diawali dengan doa, kami langsung melakukan perjalanan pulang dengan medan tempuh yang berbeda. Rute jalan pulang sengaja kami pilih yang berbeda yaitu melalui Situ atau danau.

Perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar

Perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar

Perkampungan

Perkampungan

Situ Baduy Luar

Situ Baduy Luar

Ditengah-tengah perjalan pulang

Ditengah-tengah perjalan pulang

15. kampung terakhir

Perkampungan Baduy Luar

Perkampungan Baduy Luar

Kurang lebih sekitar empat jam kami menempuh perjalanan pulang, lebih singkat dari waktu perjalanan saat berangkat, namun kami merasakan medan perjalanan yang lebih berat dibandingkan dengan medan perjalanan saat berangkat. Dimana, medan selam perjalan pulang banyak tanjakan yang harus dilalui dan tenaga yang terkuras lebih banyak. Pukul 17.30 kami akhir nya sampai di Ciboleger, tempat dimana kami memulai perjalanan memasuki kampung baduy. Setelah sampai di tempat parkir mobil kami langsung istirahat dan makan bekal makanan yang telah dimasak sebelumnya di tempat penginapan. Kemudian agenda berikutnya setelah makan bersama adalah sholat dan bersih diri. Pukul 18.00 kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk pulang menuju kampus IPB Dramaga tercinta. Pukul 22.00 Alhamdulillah sampai di kampus dengan perjalanan lancar dan tanpa ada kendala. Sampai di pelataran FKH kamipun langsung beberes, untuk ayi – ayi angkatan 51 kami pun langsung mengantarkan pulang ke asrama. Setelah itu langsung pulang ke kosan dan kontrakan masing – masing dengan keadaan lelah namun bahagia dapat menginjakan kaki di Tanah Sunda Baduy. Semoga kita selalu menjaga dan mencintai nilai-nilai kesenian dan kebudayaan bangsa.

Tiba di Kampung Ciboleger

Tiba di Kampung Ciboleger

lomba tari

Ki Sunda Midang XII (KSM XII) UKM Gentra Kaheman IPB mempersembahkan:

Lomba tari kreasi tradisional nusantara tingkat universitas se-Indonesia dengan tema tarian “Kehidupan Masyarakat Nusantara”

Lomba akan diadakan Sabtu, 21 November 2015 @kampus dramaga Institut Pertanian Bogor. Pendaftaran dibuka dari tanggal 27 Juli 2015 – 15 Oktober 2015. Video dapat dikirimkan mulai tanggal 18 hingga 22 Oktober 2015

Ayo daftar segera dan dapatkan hadiah total jutaan rupiah!

Informasi lebih lanjut hubungi kami di :
Twitter/instagram
gentra_kaheman

Website
gentra.lk.ipb.ac.id

Contact Person
Teh Rika
085715926785 (HP/WA), rikaaldiani (LINE)
Teh Danti
085712131041 (HP/WA), rachmadhanti (LINE)

Formulir pendaftaran lomba dapat diunduh pada link di bawah ini:
Formulir Pendaftaran Lomba Tari Kreasi KSM XII

Petunjuk teknis kegiatan lomba dapat diunduh pada link di bawah ini:
Petunjuk Teknis Lomba Tari Kreasi KSM XII

#gentrakaheman #KSMXII #budayanusantara

Hai buat kamu penampil divisi musik KSM XII, silakan klik link di bawah ini untuk mengetahui kamu akan main apa nanti di KSM XII. Tetap semangat!

DIVISI MUSIK KSM 12

Aksara sunda adalah salah satu kebudayaan yang berusia cukup lama yang dipakai oleh orang sunda dari abad ke – 14 hingga abad ke -18. Jejak aksara sunda dapat dilihat pada prasati kawali atau disebut juga Prasasti Astana Gede yang dibuat untuk mengenang Prabu Niskala Wastukancana yang memerintah di Kawali, Ciamis, tahun 1371-1475. Prasasti Kebantenan yang termaktub dalam lempengan tembaga, berasal dari abad ke-15, juga memakai aksara Sunda Kuno.
Dalam perkembangannya saat ini,pemakaian aksara sunda sudah bukan aksara yang baku yang selalu digunakan oleh orang sunda pada jaman dulu. Pemakaian aksara sunda sering terlihat di Jawa Barat yang merupakan daerah asli aksara sunda berasal. Di beberapa daerah di Jawa Barat, aksara sunda merupakan pelajaran yang diajarkan kepada siswa SMP ataupun SMA sebagai pelajaran muatan lokal (Mulok) bahasa sunda. Pada mulok bahasa sunda tersebut, para siswa selain diajarkan bahasa sunda juga diajarkan aksara sunda. Kemudian, aksara sunda juga sering dipakai untuk penunjuk nama-nama jalan ataupun nama suatu gedung pemerintahan di Jawa Barat.
Sebagai salah satu kebudayaan dan warisan bangsa, sudah sepantasnya aksara sunda tersebut dipelihara dan dijaga keberadaanya. Untuk itu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lingkung Seni Sunda Gentra Kaheman Institut Pertanian Bogor memberikan pengenalan dan pelatihan aksara sunda kepada calon anggota Gentra Kaheman angkatan 12. Pelatihan tersebut diberikan pada saat kegiatan latihan percobaan (Latcob) hari ke-3, yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan latihan untuk pagelaran mimitran (Pamitran) UKM lingkung seni sunda gentra kaheman. Pelatihan aksara sunda diberikan dalam bentuk memberikan tugas pembuatan biodata. Biodata tersebut sesuai dengan biodata diri masing-masing calon anggota gentra kaheman angaktan 12. Biodata harus menggunakan seluruhnya aksara sunda dengan benar, dan kerapihan serta keindahan penulisan merupakan tuntuan dalam pembuatan biodata tersebut.

dd
Siti afina, Ilmu Keluarga dan Konsumsi. Divisi Musik

ff
Nabila rizkia, Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Divisi Manajemen Pementasan

nn
Novi febriana, Biologi. Divisi Manajemen Pementasan

ww
Lani kisumawati, Arsitektur Lanskap. Divisi Musik

Tidak semua calon anggota gentra kaheman merupakan orang sunda yang tahu dan mengenal akan aksara sunda, sehingga pengenalan dan pelatihan aksara sunda diharapkan dapat menggugah kesadaran dan kecintaan serta mampu dan mau menggunakan aksara sunda sebagai salah satu unsur kebudayaan di Indonesia. Walaupun biodata aksara sunda yang dibuat masih terdapat kesalahan penggunaan huruf vokal dan konsonan serta penggunaan rarangken yang kurang tetap, namun calon anggota baru angakatan 12 sudah dapat membuktikan serta mampu menulis aksara sunda. Semoga, semua anggota UKM lingkung seni sunda gentra kaheman lebih mencintai serta bangga akan pengunaan aksara sunda.

image

LATE (Let’s Ameng Together Euy) adalah suatu kegiatan outbound yang diikuti oleh calon anggota Gentra Kaheman, kegiatan ini berisi permainan-permainan yang kreatif mengasah kerjasama setiap kelompok. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2015. Late diikut oleh semua calon anggota Gentra Kaheman angkatan 51 atau di Gentra sendiri merupakan angkatan 12, mereka terbagi dalam 8 kloter yang diisi oleh 2-3 kelompok yang digabung. Masing-masing kloter didampingi oleh kakak pendamping yang terdiri dari 1-2 orang. Terdapat 6 pos yang dilewati dimana setiap pos hanya 15 menit waktu yang dibutuhkan, dimana di setiap pos akan diadu antara kelompok yang tergabung dalam 1 kloter.

Pos pertama yang didatangi terdapat di lapangan C4. Permainan yang diikuti membutuhkan penutup mata dan tali. Cara bermain dalam permainan tersebut adalah semua anggota wajib menutup matanya kecuali anggota yang berada di urutan paling belakang, mereka membentuk barisan dengan berpengangan ke pundak teman yang berada di depannya. Anggota yang berada pada urutan paling depan diikat badannya dengan tali panjang sehingga orang paling belakang memberi kode belok kanan atau kiri dengan manarik tali tersebut sesuai arah yang diinginkan. Pemenang dalam permainan ini adalah kelompok yang lebih dahulu sampai ke garis finish. Keseruan yang terjadi di permainan ini adalah anggota bisa menubruk pohon atau batang dan masing-masing anggota bertubrukan. Esensi dari permainan ini adalah kekompokkan, kepercayaan, dan kerjasama.
image

Pos kedua terdapat di dekat perumahan dosen. Permainan ini membutuhkan semua peralatan yang dimiliki oleh semua anggota. Cara bermain dalam kelompok ini adalah masing-masing kelompok harus membentuk huruf GK 12 dengan menggunakan peralatan yang mereka miliki. Mereka terlebih dahulu mengeluarkan semua barang-barang yang terdapat dalam tas mereka dan memaksimalkan barang tersebut agar dapat menyatu membentuk huruf GK 12. Keseruan dari permainan ini adalah tak jarang masing-masing anggota beradu pendapat barang mana yang sesuai dan pas untuk membentuk huruf tersebut. Pemenang ditentukan dari kelompok yang pas dan bagus membentuk huruf GK 12. Esensi dari permainan adalah kerjasama, kreatifitas, dan kekompakan.
image

Pos ketiga terletak di tengah hutan. Permainan ini membutuhkan buku saku Gentra Kaheman sebagai alat bantu mencari aksara sunda. Cara bermain dalam permainan ini adalah mencari kata yang disebutkan dalam bentuk kertas kecil yang disebar dan kata yang dimaksud dituliskan menggunakan aksara sunda. Mereka pertama harus mengartikan setiap huruf ke dalam aksara dan merangkai menjadi kata yang dimaksud setelah itu mencarinya. Keseruan di permainan ini adalah anggota sibuk mencari aksara yang sesuai dan banyak yang mengambil kertas yang salah dengan kata yang dimaksud. Pemenang dari permainan ini adalah kelompok yang paling banyak mengumpulkan kata yang diminta. Esensi dari permainan ini adalah kemampuan aksara sunda, ketelitian, dan kerjasama.
image

Pos keempat terletak di tengah hutan. Permainan ini tidak membutuhkan alat pembantu. Cara bermain dalam permainan ini adalah semua anggota membentuk lingkaran lalu mendepet satu sama lain dan duduk di bawah, lalu semua anggota harus bangun secara bersamaan namun tidak boleh memakai bantuan tangan. Keseruan dari permainan ini adalah setiap anggota sering terjatuh, ketika bangun sudah tidak membentuk lingkaran dan sudah terpisah satu sama lain. Esensi dari permainan ini adalah kekompakan, kerjasama, dan kepercayaan.

Pos kelima terletak di tengah hutan. Pos ini berbeda dengan pos yang lain. Di pos ini semua anggota harus jalan jongkok lalu merangkak melewati jaring-jaring yang terbuat dari tali rapia dimana dibawah tali itu terdapat kubangan lumpur. Setelah itu semua anggota berdiri di dalam kubangan lumpur dan diuji seberapa peduli dan mengenal seluruh bagian Gentra Kaheman baik sesama angkatan GK 12, angkatan atas, maupun mengenai Gentra Kaheman sendiri. Mereka diminta untuk menyanyikan hariring Gentra pada akhir permainan. Keseruan dari pos ini adalah setiap anggota harus berani kotor. Esensi dari pos ini adalah untuk membuat semua calon anggota peduli satu sama lain, mengenal satu sama lain, mengenal Gentra Kaheman secara seutuhnya dan bisa bertahan di Gentra Kaheman.
image

Pos terakhir atau pos keenam terletak di sungai. Permainan ini membutuhkan gelas minuman kecil dan ember. Cara bermain dalam permainan ini adalah semua anggota membentuk barisan lalu jongkok/duduk dan mengoper air satu sama lain secara estafet menggunakan mulut. Anggota kelompok yang berada di barisan belakang bertugas mengambil air dari sungai menggunakan gelas yang digigit di mulut yang menuangkan air ke dalam gelas teman yang berada di depannya menggunakan mulut dan anggota yang paling terakhir dituang harus menuangkan air tersebut ke dalam ember untuk pada akhir permainan diitung seberapa banyak air yang didapatkan. Keseruan dari permainan ini adalah anggota seringkali air sungai yang dituangkan tumpah dan masuk ke dalam mulut mereka. Pemenang dari permainan ini ditentukan dari banyaknya air yang terkumpul di ember. Esensi dari permainan adalah kekompakan, kerjasama, dan ketelitian.

Sabtu, 7 Maret 2015 diselenggarakan silaturahmi Forum Komunikasi Lingkung Seni Mahasiswa Sunda (Fokalismas) yang dilaksanakan di Aula Suradiredja Universitas Pasundan Jalan Lengkong Besar, Bandung. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 13 UKM kesenian Sunda Se-Jawa Barat, diantaranya LSS ITB, Lises Unpad, LSBS Unisba, Lisma Unpas, Gentra Kaheman IPB, Sadaya Unikom, Kabumi UPI, Garnida STKS, Sawanda Telkom, Citraresmi Unwim, Teater Awal UIN, Kabayan Polban, dan DSS 343 STT Jabar.

IMG-20150311-WA0000

Gentra Kaheman mengirimkan dua perwakilannya untuk mengikuti kegiatan silaturahmi fokalismas, yaitu saudara Fadel dan Fauzi. Rangkaian acara tersebut terdiri dari perkenalan seluruh UKM lises yang hadir, kemudian membahas apa saja permasalahan yang terjadi pada kebudayaan sunda saat ini, membahas sejarah berdirinya fokalismas, serta pemilihan kepengurusan baru.

Masalah utama mengenai kebudayaan sunda yang jadi perbincangan di dalam forum adalah gensinya masyarakat masa kini dalam mengaplikasikan budaya sunda. Mereka menganggap bahwa budaya sunda itu “jadul” atau tidak modern sehingga timbul rasa malu apabila mereka mengaplikasikan budaya sunda tersebut. Selain itu, persoalan pemakaian bahasa sunda juga menjadi masalah kebudayaan sunda saat ini. Banyak masyarakat sunda yang menggunakan bahasa sunda kasar dan dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia. Selain itu, para pendatang dari luar sunda justru belajar bahasa sunda yang bagian kasarnya sehingga mengurangi esensi dari bahasa sunda itu sendiri.Setelah acara pembahasan materi, dilanjutkan dengan penampilan rampak kendang dari LSS ITB.

20150307_145728

Fokalismas didirikan sebagai wadah dan tempat berkumpulnya seluruh lingkung seni sunda di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Seluruh lises yang berasal dari berbagai kampus ini berkumpul dan saling berbagi pengalaman serta ilmunya. Setelah hamper 3 tahun vakum, akhirnya fokalismas kembali dihidupkan dan saat ini diketuai oleh Kang Ibnu dari LSS ITB.

IMG-20150311-WA0002

Selamat, Kang Ibnu!

Older Posts »